Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Husasan Tayeh

Mawar Kuning: Nyanyian Perlawanan Patani yang tak akan Padam

Sastra | 2025-03-13 06:52:34

Ketika Melodi Lagu “Jopatri” Menjadi Ruang Narasi yang Terus Menggema Mengingatkan Realitas


Di tengah ketegangan yang masih terasa, tetap ada ruang bagi para seniman, seperti band nu-metal Jopatri, yang dikenal luas di kalangan anak muda Patani. Mereka bukan sekadar musisi yang menciptakan hiburan, tetapi juga penyampai kebenaran melalui lirik-lirik tajam. Lagu-lagu mereka bukan hanya seni, melainkan juga suara kaum tertindas serta senjata dalam perlawanan ideologis.

Cover video lagu Mawar Kuning-Jopatri

Salah satu karya terbaru Jopatri, “Mawar Kuning” (The Yellow Rose), bukan sekadar sebuah melodi yang dinyanyikan, tetapi juga gugatan terhadap sejarah dan ketidakadilan. Liriknya menggambarkan kepincangan sistem peradilan dalam tragedi Tak Bai, yang terjadi pada 25 Oktober 2004.

Tragedi tersebut bukan sekadar bencana bagi rakyat, tetapi juga cerminan kegagalan sistem hukum. Kematian lebih dari 85 orang tak bersenjata pada hari itu masih menjadi tanda tanya hingga kini. Tak ada bayangan pelaku yang dihukum, hanya luka yang terus membekas dalam ingatan masyarakat. Meski waktu berlalu, tuntutan keadilan tak pernah surut—sama seperti lagu-lagu Jopatri yang terus menggema, mengingatkan realitas yang ada. (- RESET -)


Analisis Lagu “Mawar Kuning (The Yellow Rose)” – JoPatri

Logo band JoPatri

1. “Berpujuk Rayu Sekuntum mawar kuning madu manis”

Pada bagian ini, mawar kuning melambangkan simbol pengkhianatan dan kepalsuan. Warna kuning dalam konteks ini bisa diinterpretasikan sebagai janji-janji manis dari penguasa yang justru berujung pada pengkhianatan terhadap rakyat.

2. “Kata maaf Seperti kaki tendang tiada makna tangan salam”

Lirik ini menyiratkan bagaimana kata maaf yang diucapkan oleh pihak berwenang tidak memiliki makna karena masih diiringi dengan tindakan represif. Ada kontradiksi yang jelas antara permintaan maaf dan kekerasan yang terus berlanjut.

3. “Aku bersumpah Sampai merekah sampai merdeka Darah tumpahnya darah Tak usai dengan meludah”

Lirik ini mengandung semangat perjuangan yang tidak akan berhenti sampai kemerdekaan tercapai. Darah tumpahnya darah melambangkan pengorbanan yang telah diberikan, dan ini tidak akan selesai hanya dengan kata-kata kosong atau ejekan (meludah).

Tragedi Takbai

4. “Nyawa di Tabal Disusun bagai bangkai tiada harga”

Bagian ini mencerminkan bagaimana nyawa rakyat di Tak Bai diperlakukan tanpa nilai. Tabal (kata lain TAK BAI) dalam konteks ini bisa berarti pengorbanan, tetapi juga bisa diartikan sebagai pelabelan atau pemakluman terhadap kematian yang terjadi, seolah-olah mereka tidak berarti.

5. “Keadilan Seperti cari jarum di lautan di Andaman”

Lirik ini menunjukkan betapa sulitnya mencari keadilan bagi korban tragedi Tak Bai, seperti mencari jarum di tengah lautan yang luas. Laut Andaman yang disebut dalam lirik mungkin juga mengacu pada perbatasan laut yang menjadi saksi bisu berbagai tragedi yang menimpa masyarakat Patani.

6. “Itu penjajah Sampai kiamat penuh biadab”

Bagian ini secara langsung menyebutkan keberadaan penjajah, yang dalam konteks lagu ini merujuk pada kekuatan yang menindas Patani. Frasa sampai kiamat menunjukkan keyakinan bahwa penindasan ini telah berlangsung begitu lama dan mungkin akan terus berlanjut jika tidak ada perlawanan.

7. “Tuduh Udara Merampai dusta Sepuluh Ramadhan Terbuka Mekah”

Lirik ini tampaknya merujuk pada narasi yang diputarbalikkan oleh penguasa, di mana fakta seringkali ditutupi dengan dusta. Sepuluh Ramadhan Terbuka Mekah bisa dihubungkan dengan peristiwa Fathu Makkah, yang dalam sejarah Islam menandai kemenangan kaum Muslimin atas kezaliman. Ini memberikan harapan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang.

8. “Baja baja durian Segar membaja Darah merdeka”

Bagian ini mengandung simbolisme yang cukup unik. Baja baja durian bisa diinterpretasikan sebagai duri-duri perjuangan yang harus dilewati, sementara darah merdeka menunjukkan bahwa kemerdekaan hanya bisa diperoleh dengan pengorbanan yang besar.

Ilustrasi band JoPatri

Kesimpulan

JoPatri dengan lagu Mawar Kuning telah menciptakan sebuah karya yang lebih dari sekadar musik; ini adalah sebuah pernyataan politik dan sosial. Lirik-liriknya penuh dengan simbolisme yang menggambarkan pengkhianatan, penindasan, dan perjuangan rakyat Patani dalam mencari keadilan.

Lagu ini mengingatkan kita bahwa meskipun waktu terus berjalan, luka akibat tragedi seperti Tak Bai tidak akan pernah sembuh selama keadilan belum ditegakkan. Sebagaimana seni selalu menjadi cermin bagi masyarakat, Mawar Kuning adalah seruan perlawanan yang terus menggema di tengah-tengah ketidakadilan./Abi Putri

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image