Sering Nggak Pede Foto Selfie tanpa Filter, Waspadai Sindrom Ini

Gaya Hidup  
Media sosial Ilustrasi.
Media sosial Ilustrasi.

RUANG TEKNO -- Apa kamu sering gelisah kalau harus memposting foto selfie tanpa diedit dan fitur filter? Jika iya, ada baiknya waspada.

BIla perasaan tersebut sering muncul, terutama pada fase ekstrem, bisa jadi kamu tengah mengalami sindrom yang mengarah pada gangguan kesehatan mental.

Menggunakan aplikasi pengedit foto atau fitur filter di gawai memang bukan sesuatu yang salah. Hampir semua pengguna smartphone dan media sosial menggunakannya.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Ia menjadi wajar bila masih dalam tahap estetik saja. Sama halnya dengan menggunakan make up atau berdandan. Setiap orang berhak menampilkan dirinya lebih baik.

Namun, masalah datang bila sudah masuk tahap berlebihan. Misalnya sampai menimbulkan pikiran negatif dan rasa ketidakpuasan pada tubuh sendiri. Hingga akhirnya terobsesi membanding-bandingkan diri dengan hasil foto filter.

Salah satu sindrom terkait fenomena itu adalah Snapchat Dysmorphia.

Istilah ini muncul setelah para ahli dan dokter bedah plastik melaporkan semakin banyak pasien yang ingin mengubah tampilan mereka seperti versi foto mereka yang sudah difilter.

Snapchat dysmorphia, secara sederhana, terjadi ketika kamu terobsesi membanding-bandingkan "versi filter" dirimu dengan realitas sebenarnya. Kamu akan terjebak dalam perasaan selalu merasa kurang sempurna. Itu kerapkali membuatmu merasa sedih, frustasi, bahkan tertekan.

Hal itu yang kemudian berujung pada dorongan untuk mengubah fisik supaya sama dengan foto filter tersebut. Salah satunya lewat operasi plastik.

Snapchat dysmorphia memang sejauh ini bukan istilah resmi dunia medis.

Namun, sejumlah indikasinya mirip dengan gangguan kesehatan mental yang dikenal sebagai body dysmorphic disorder (BDD) atau gangguan bentuk tubuh tidak sempurna.

Setidaknya ada tiga indikasi ketika seseorang mengalami BDD.

Tiga Indikasi BDD

1. Kekhawatiran ekstrem atas kekurangan fisik

Kamu sering terjebak dalam perasaan ketidaksempurnaan — mata yang sedikit tidak rata, bibir tipis, atau tonjolan di hidung Anda — dan percaya bahwa itu membuatmu tidak menarik atau tidak menarik. Padahal orang lain tidak mempermasalahkan itu.

2. Terus-menerus mengecek kekurangan fisik

Kamu menghabiskan banyak waktu untuk menyembunyikan kekurangan fisikmu, melihatnya berkali-kali di kaca, bertanya pada orang lain apakah mereka melihatnya, atau selalu membandingkan diri dengan orang lain. Kebiasaan ini berlangsung setiap jam, setiap hari, dan kerapkali bikin perasaan tidak puas dan stres.

3. Terlalu berpusat pada kekurangan sehingga mempengaruhi kehidupan sehari hari

Tahap dimana perasaan tidak sempurna dan upaya menyembunyikannya sampai mengganggu aktivitas sehari-hari kamu. Memeriksa penampilanmu terus-menerus dan mencoba menyembunyikan kekurangan tersebut sebenarnya tidak membantumu merasa lebih baik. Namun, kamu tidak bisa berhenti melakukannya.

Media sosial sulit ditampik bisa menguatkan perasaan-perasaan tersebut. Ketika fitur filter dan edit tidak mengubah kondisi fisikmu dalam kenyataan, ia setidaknya membuatmu bisa melihat gambaran diri tanpa kekurangan-kekurangan yang kamu rasa miliki.

Ini akhirnya berujung pada sikap membanding-bandingkan dirimu yang sebenarnya dengan versi filter. Ini kemudian menambah perasaan gelisah, malu, bahkan depresi.

Jika dibiarkan, BDD dapat menyebabkan:

- Sikap mengasingkan diri dari lingkungan sosial, termasuk sekolah atau kantor

- Kesulitan mengelola kewajiban sehari-hari, termasuk mengasuh anak dan bekerja

- Penurunan kualitas hidup

- Pemikiran untuk bunuh diri (duh...!)

Pada dasarnya, Snapchat dysmorphia memiliki indikasi mirip dengan BDD. Dimana seseorang memiliki pikiran negatif atau rasa cemas terhadap kekurangan dari satu atau beberapa anggota tubuh.

Padahal, faktanya, tidak ada manusia yang sempurna. Hal itu sudah menjadi bagian dari fitrah manusia.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Cara Mengantisipasi

Masalah, dalam kasus ini, pada dasarnya berkaitan erat dengan kebiasaan bersosial media.

Salah satu langkah bisa diambil adalah mengambil jeda. Tinggalkan media sosial untuk sementara. Ambil waktu untuk segarkan kembali sudut pandang positif terhadap diri sendiri.

Beberapa hal ini mungkin butuh dilakukan.

- Batasi jam media sosialmu

Mulai batasi dan kurangi jam media sosialmu. Bila kamu merasa dapat menghabiskan enam jam sehari untuk media sosial, kurangi menjadi satu jam saja misalnya. Gunakan waktu ekstra tadi untuk melakukan kegiatan positif.

- Kurangi selfie

Menurut penelitian 2017 pengguna media sosial sebenarnya lebih menyukai jenis foto lain ketimbang selfie.

Alih-alih memosting terlalu banyak foto diri, mengapa tidak menangkap momen lain dari keseharianmu? Misalnya, foto suasana kota dalam perjalanan ke kantor, matahari terbit/terbenam, atau makanan yang sedang kamu nikmati.

- Pertimbangkan ulang lingkaran sosialmu

Berada dalam lingkungan sosial dimana teman-temanmu kerap memosting selfie (terutama dengan filter) bisa mendorongmu untuk melakukan hal sama. Coba sesekali beralih ke teman-teman berbeda.

- Setop bandingkan dirimu dengan orang lain

Dorongan ini sulit dibendung. Terutama saat menggunakan media sosial. Namun, ingat-ingat, tidak ada manusia sempurna!. Belajar rangkul kelebihan dan kekurangan dirimu. Jangan lupa bahagia.

Kesimpulan

Pada dasarnya mengambil foto selfie dan mengeditnya adalah hal wajar. Ia menjadi masalah ketika perasaan tidak puas akan tubuh sendiri menguat dan berujung pada menurunnya kualitas hidup.

Jika kamu merasa selfie sudah tidak lagi menyenangkan dan malah bikin tertekan, ada baiknya singkirkan dulu smartphonemu.

Sisihkan waktu lebih untuk menguatkan kembali sudut pandang positif terhadap diri sendiri.

Sumber: Healthline

Baca juga:

- YTMP3: Download Lagu Mp3 dari Video Youtube Tanpa Aplikasi, Gratis dan Cepat

- Download Video Story, Foto, IGTV, dan Reels dari Instagram Gratis tanpa Aplikasi di iGram

- Download GB Whatsapp (GB WA) Paling Baru Update September 2022: Mudah, Cepat, Aman

- Lirik Lagu dan Chord Gitar Tak Ingin Usai oleh Keisya Levronka

- Download Video TikTok Tanpa Watermark 2022 di Snaptik App, Spontan Tanpa Aplikasi

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penyuka mi ayam

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image